Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Sesi I pada Kamis, 12 Februari 2026, dengan catatan negatif. Berdasarkan data hingga pukul 11.59 WIB, indeks terpantau merosot 31,80 poin atau terkoreksi sebesar 0,38% ke posisi 8.259,17.
Padahal, pada awal perdagangan pagi tadi, IHSG sempat mencatatkan performa yang cukup meyakinkan. Indeks dibuka menguat 26,27 poin atau naik 0,32% menuju level 8.317,24.
Tekanan Rupiah dan Volatilitas Pasar
Sepanjang paruh pertama hari ini, IHSG bergerak sangat volatil dengan menyentuh level tertinggi di angka 8.334,02. Namun, tekanan jual membawa indeks terjatuh hingga ke titik terendah di level 8.220,15 sebelum jeda siang.
Kondisi ini beriringan dengan pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang terpantau melemah. Pada sesi pembukaan, mata uang Garuda terkoreksi 0,15% dan berada di posisi Rp16.811 per USD.
Indeks LQ45 juga tidak mampu mempertahankan penguatannya yang sempat naik 0,15% ke level 843,23 di awal perdagangan.
Dampak Stimulus Ekonomi dan Harapan MSCI
Penurunan indeks terjadi di tengah upaya pemerintah dalam menggulirkan stimulus ekonomi sebesar Rp12,83 triliun. Langkah tersebut diambil guna menjaga konsumsi domestik masyarakat Indonesia pada awal tahun 2026.
Selain itu, pelaku pasar sedang mencermati hasil pertemuan teknis antara manajemen BEI dengan MSCI Inc. Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan integritas pasar modal Indonesia demi memicu arus modal masuk (capital inflow) dari investor global.
Secara teknikal, posisi IHSG saat ini masih berada dalam rentang tahunan dengan level tertinggi 52 minggu di 9.174,47 dan level terendah di 5.882,60.
