oleh

Usai Menenggak Minuman Keras, Kakek 50 Tahun Rudapaksa Anak di Bawah Umur di Parepare

-Berita, Hukrim-40 views

SERATUSNEWS.ID, PAREPARE — Kepolisian resort (Polres) Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), kembali mengungkap kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

Hal itu diungkapkan oleh Kasi Humas Polres Parepare, Iptu Faesal saat menggelar Press release, pada Rabu (12/1/2022) siang.

Dalam keterangannya di hadapan sejumlah wartawan, Faesal mengungkapkan, pelaku adalah sorang pria paruh baya yang berusia 50 tahun berinisial N, warga asal Maiwa, Kabupaten Enrekang, ia tega melakukan tindakan rudapaksa terhadap korban berinisial O yang masih berusia 12 tahun.

“Jadi koronologisnya, saat itu korban hendak pulang ke rumahnya, pelaku yang baru saja menenggak minuman keras yang tak jauh dari rumah korban, tiba-tiba menarik paksa tangan korban dan membaringkannya di rumput yang ada di belakang tempat cukur, dan disitulah pelaku melakukan tindakan tidak terpuji itu,” jelasnya.

Dikatakan pula, saat melakukan tindakan bejatnya itu, pelaku dalam keadaan pengaruh minuman keras.

“Usai melakukan tindakan kekerasan seksual, pelaku kemudian memberi uang sebanyak 100 ribu Rupiah kepada korban, dan mengancam agar tidak melaporkan kejadian itu kepada siapa pun,” kata Faesal.

Di tempat yang sama Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Parepare, Aipda Dewi Natalia Noya mengatakan, pelaku sudah dua kali melakukan tindakan rudapaksa terhadap korban dan satu kali melakukan tindakan pencabulan.

“Jadi usai melakukan tindakan pencabulan inilah,¬† pelaku lalu membonceng korban untuk membeli pulsa di salah satu counter, namun saat dalam perjalanan korban melompat dari motor dan dilihat oleh salah seorang warga, dan saat itulah perbuatan pelaku ketahuan dan sempat jadi bulan-bulanan warga,” jelas Dewi.

Atas perbuatannya, pelaku dikenai Pasal 81 ayat 1 Undang-undang No. 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun.

Dewi juga mengatakan, saat ini korban dalam perlindungan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), karena mengalami trauma berat atas peristiwa yang dialaminya itu. (*/ag)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed