Perahu Kehidupan Orang Bugis

SERATUSNEWS.ID, OPINI — Bayangkan untuk sesaat anda berada pada perahu kecil di tengah samudra, tanpa apa pun kecuali ombak yang bergulung-gulung serta angin topan di segala arah sejauh mata memandang. Perahu tersebut dilengkapi dengan dayung, tetapi ke arah mana Anda akan mendayung?

Sekarang bayangkan anda sekilas melihat tanah daratan. Sekarang Anda tahu ke arah mana Anda harus pergi.

Apakah melihat tanah daratan memberi Anda sekaligus motivasi dan tujuan? Orang yang tidak memiliki tujuan yang jelas adalah gelandangan. Gelandangan membiarkan gelombang dunia.

Entah kenapa analogi tentang perahu di tengah samudra ini terlintas di kepalaku, ketika sedang membaca postingan seorang kawan tentang kondisi warga Bugis di Wamena, Papua.

Menyinggung tentang Bugis, tentu sangat erat kaitannya dengan perahu dan samudra yang luas. Dalam beberapa tulisan sebelumnya, sering kali saya mengawalinya dengan nilai-nilai kultur atau budaya kearifan lokal, dengan harapan agar lebih mengentalkan pikiran serta ide dalam tulisan, ada pesan yang diletakkan di dalamnya dan tidak merusak keutuhan dalam tulisan.

Beberapa tahun yang silam, saya kerap berhadapan dengan Bapak Syahrul Yasin Limpo saat memandu program Good Night Makassar di Radio Suara Celebes Makassar, salah satu pesan beliau yang masih melekat adalah, hidup ini tidak selamanya enak atau dengan kata lain, hidup ini tak pernah lepas dari tantangan. Oleh karena itu, tidak ada samudra yang pasti tanpa gelombang, tidak ada langit tanpa awan, dan semua itu adalah hukum alam dan sunnatullah.

Kalu kita mau menggapai pulau harapan di balik fatamorgana, kita harus punya keberanian melepaskan tambat perahu dari dermaga. Kita tidak harus kehilangan pandangan pantai yang indah saat sekarang ini. Bahkan kita mau bersabung menantang samudra dan topan yang menghadang. Kita tidak ragu kehilangan uang, kedudukan bahkan nyawa sekali pun, karena ada spirit, ada hati, ada budaya, ada adat, serta agama yang menjadi kompas kita.

Sebagai Orang Bugis tentulah memiliki karakter yang sangat menghargai orang yang memiliki semangat juang yang tinggi, tidak menyerah bahkan harus mati sekalipun. Bahkan ketika lawan sangat kuat pun sangat memalukan ketika harus mengalah yang penting yakin bahwa yang diperjuangkan adalah benar.

Orang Bugis lebih memilih untuk melawan sampai habis-habisan. Ketika ada seseorang di masyarakat yang tertindas namun tidak melawan akan dianggap pecundang dan dicemoohkan oleh masyarakat.

Suku Bugis dikenal karena jiwa kebahariannya yang mengesankan hidup dengan kekerasan, dalam artian bekerja keras untuk hidup.

Umumnya etnis Bugis mudah sekali beradaptasi dengan daerah yang mereka tinggali. Hal itu tidak terlepas dari falsafah hidup orang Bugis ‘Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’.

Falsafah lainnya yang menjadi prinsip manusia Bugis adalah, “Jika bertemu badai di lautan, jangan miringkan kapalmu apalagi membelakanginya, hadapi dan terus maju, sebab begitu layar terkembang pantang surut biduk ke pantai” !!

Penulis: Abdillah.Ms (Warga Bugis)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: