Pembatasan Penggunaan BBM, Praktisi Ekonomi Minta Pemerintah Lakukan Pengkajian Ulang

SERATUSNEWS.ID, EKONOMI — Wacana pembatasan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dan Pertalite mendapat sorotan dari akademisi Ekonomi dari IAIN Parepare.

Akademisi Ekonomi, Sekaligus Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Kota Parepare, Muhammad Satar mengatakan, krisis ekonomi yang terjadi tidak terlepas dari masa pandemi dalam kurun waktu yang lama.

“Menyikapi kenaikan harga bahan pokok yang terjadi sekarang ini, ini tidak terlepas dari pandemi yang hampir terjadi dalam kurun waktu  tiga tahun terakhir yang masih berlangsung,” jelasnya.

Dosen Ekonomi IAIN Parepare itu menjelaskan efek pandemi tidak bisa dilepaskan dari masa transisi menstabilkan keadaan ekonomi setelah adanya pembatasan sosial berbasis mikro.

“Belum terlepas dari efek pandemi, masa transisi penormalan ekonomi setelah pembatasan sosial secara mikro, kini kita diuji lagi wacana pembatasan penggunaan BBM jenis pertalite dan solar,” lanjut Satar sapaan akrabnya.

Melihat efek pandemi, kata Satar, tidak hanya adanya krisis ekonomi, namun juga berdampak pada tingginya inflasi hingga naiknya harga bahan pokok dapur.

“Kalau kita melihat efek dari daripada pandemi, tidak hanya membawa krisis ekonomi ditandai juga inflasi, turunnya mata uang dan naiknya harga kebutuhan pokok. Salah satunya itu minyak goreng kemarin yang sempat langka,” katanya.

Dia juga mengurai, krisis ekonomi juga berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, dan lebih berefek pada APBN yang terus merosot.

“Akibat krisis ekonomi dan menurunnya daya beli, APBN terus merosot, maka terjadilah resisi ekonomi. Ini lebih keras dampaknya daripada dari krisis ekonomi sendiri,” ungkapnya.

Saat ini telah terjadi Resesi Ekonomi dengan tingginya angka pengangguran akibat perusahaan-perusahaan mengurangi tenaga kerja dari efek pandemi, dan disertai menurunnya angka daya beli

“Resesi ekonomi ini ditandai dengan tingginya angka pengangguran, akibat perusahaan-perusahaan mengeluarkan kebijakan soal efek pandemi, mengurangi jumlah tenaga kerja, sehingga pengangguran bertambah, daya beli semakin menurun, harga kebutuhan pokok semakin naik. Nah inilah menyebabkan resisi ekonomi,” jelas Satar.

Muhammad Satar juga mengatakan, sebagai praktisi sekaligus dosen ekonomi yang terlibat pada dunia bisnis usaha pangan dan perumahan, sangat terpukul dan mengalami penurunan penjualan mencapai 50 persen.

“Sebagai akademisi dan praktisi ekonomi, selain menjadi dosen ekonomi dan juga terlibat di dunia bisnis khususnya di bidang pangan yakni beras dan juga perumahan. Nah ini sangat terasa sekali, banyangkan saja beras sebagai kebutuhan pokok di dapur, saya selaku pelaku pasar mengalami penurunan penjualan dan penurunan omzet sampai 50 persen,” bebernya.

“Bagaimana sektor-sektor lain yang non pangan, sedangkan bentuk pangan saja itu sangat terpukul. Sehingga bisa dikatakan bahwa kondisi saat ini sudah masuk pada resesi bukan lagi krisis ekonomi,” sambungnya.

Dia membandingkan krisis pada tahun 1998 silam, bahan pokok saat itu terjangkau dan terjamin, yang berimbas itu hanya di sektor ritel.

“Kalau dibandingkan krisis tahun 98, harga bahan pokok masih terjangkau dan terjamin. Baik itu ketersediaan maupun daya belinya, yang berimbas pada saat itu hanya di sektor ritel,” imbuhnya.

Satar menjelaskan, kondisi sekarang berdampak pada sektor mikro yang mengharuskan pihak bank mengeluarkan kebijakan restrukturisasi pembiayaan dengan kredit.

“Sedangkan masa saat ini, bukan hanya sektor ritel yang terpukul dan juga sektor mikro, sehingga bank-bank mengambil kebijakan restrukturisasi terhadap pembiayaan-pembiayaan dan kredit-kredit di sektor ritel dan mikro,” jelasnya.

“Nah ini baru beberapa bulan pemulihan ekonomi, pembatasan penggunaan pertalite dan solar akan diberlakukan, ini kan baru proses pemulihan,” lanjut Satar.

Dia juga menyarankan solusi sebelum melakukan pembatasan penggunaan BBM harus dulu melihat kondisi yang terjadi di masyarakat.

“Menurut saya pribadi harusnya sebelum melakukan pembatasan penggunaan BBM jenis pertalite dan solar hendaknya memperhatikan dulu keadaan yang terjadi di masyarakat, khususnya di sektor mikro yang baru bangkit untuk menguatkan ritme ekonominya,” sarannya.

“Ini warkop-warkop baru ramai, mereka masih memutar modal untuk keberlangsungan operasional usaha, dan berupaya mengembalikan pinjaman di bank. Kemarin bank restrukturisasi, melakukan penangguhan pembayaran dan sekarang kebijakan itu sudah dicabut, semua pinjaman-pinjaman sektor mikro itu harus mengembalikan ke bank. Dan naiknya harga bahan pokok serta adanya pembatasan penggunaan dua jenis BBM ini, tentunya akan kembali memukul dan memberatkan kembali sektor-sektor ekonomi mikro itu sendiri,” jelasnya.

Satar juga mengkhawatirkan akan terjadi Depresi Ekonomi, maka lebih baik pemerintah melakukan pengkajian ulang soal pembatasan penggunaan bahan bakar yang sering digunakan masyarakat.

“Sehingga yang dikhawatirkan bukan hanya terjadi resisi ekonomi namun bisa berimbas kepada hal yang lebih buruk yaitu depresi ekonomi. Andai pemerintah kembali mengkaji ulang sebelum memutuskan pembatasan penggunaan BBM,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan di sektor mikro terlebih dahulu memberikan bantuan-bantuan lunak melalui koperasi hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau Kredit Usaha Desa (KUD) yang bunganya lebih ringan.

“Hendaknya di perkuat dulu sektor mikro dengan bantuan-bantuan lunak kepada umkm baik melalui koperasi atau pun melalui kredit usaha rakyat dengan bunga yang lebih ringan dan paling penting proses yang cepat serta mudah,” tutupnya. (hsl/ag) 

abdi

Tinggalkan Balasan

Next Post

Wali Kota Parepare Serahkan Jamaah Calon  Haji Kloter Pertama Ke PPIH Sulsel

Kam Jun 16 , 2022
SERATUSNEWS.ID, MAKASSAR — Wali Kota Parepare, Taufan Pawe (TP) memimpin penyerahan Jemaah Calon Haji (JCH) asal Kota Parepare untuk bergabung dengan Kloter Pertama Embarkasi Makassar, di Asrama Haji, Kota Makassar, Kamis, (16/6/2022). 393 JCH ini terdiri dari 209 orang asal Kota Makassar, Kota Parepare 61 orang, dan Soppeng 119 orang. […]

Kategori

%d blogger menyukai ini: