SERATUSNEWS.ID,PAREPARE – Meski di dunia ini terdapat lebih dari 100 jenis tanaman kopi, tapi hanya 4 jenis kopi saja yang diperdagangkan secara komersial, yakni kopi arabika, robusta, liberika dan excelsa. Kopi Arabika dikenal terlebih dahulu sejak ditemukan di Abyssina, Ethiopia dan kemudian dibawa ke kawasan Arab untuk diperdagangkan. Karena itulah varietas kopi yang satu ini dinamakan Coffea arabica.

Lain halnya dengan kopi robusta. Kopi dengan nama latin Coffea canephora ini merupakan salah satu induk dari hibridisasi Coffea arabica, bersama dengan spesies Coffea eugenioides. Kopi ini sebenarnya sudah lama dikonsumsi masyarakat Kongo, Afrika Timur sebagai bahan stimulus dengan cara mengunyah biji kopi mentahnya. Namun, baru di tahun 1897 ahli botani Belgia Alberzt Foehrer mengidentifikasi kopi non arabika ini sebagai kopi robusta (Coffea canephora var.Foehrer). Nama robusta diambil dari bahasa Inggris “Robust” yang artinya kuat.

Ini sesuai dengan kuatnya daya tahan tanaman kopi ini terhadap hama penyakit karat daun dibandingkan turunan hibridanya, si kopi Arabika. Selain itu, penamaan “robusta” juga merujuk pada citarasa minuman kopinya yang kental dan mempunyai citarasa yang kuat serta lebih pahit daripada kopi Arabika.

Bicara masalah citarasa, kopi robusta seringkali mendapat “diskriminasi sosial” dari para peminum kopi. Kopi robusta sering diremehkan karena aroma coklat dan pahitnya yang terlalu kuat, berbeda dengan kopi Arabika yang lebih banyak beraroma buah-buahan dan sedikit manis. Jika diibaratkan dalam tingkatan struktur sosial, kopi robusta menempati kasta menengah ke bawah, sementara kopi arabika adalah kelas elit dan eksklusif.

Penyebab utama mengapa kopi robusta dianggap remeh dan menempati kelas bawah dalam dunia perkopian. Yang pertama, karena kopi Arabika adalah varietas pertama yang diperkenalkan ke konsumen. Ini menyebabkan konsumen lebih dahulu merasakan aroma dan citarasa kopi Arabika.

Dengan begitu, mereka bisa menetapkan standar dalam rasa untuk kopi jenis yang lain, yang sejak itu dianggap lebih rendah dari kopi Arabika. Meski kemudian kopi robusta muncul dan produksinya saat ini sudah mencapai 30% dari total komoditas kopi yang diperdagangkan, tapi tetap saja kopi beraroma coklat ini kalah langkah dibandingkan turunan hibridanya sendiri.

Meskipun rasanya sering dikecam oleh (beberapa) penggemar kopi, toh jutaan orang tetap mengonsumsinya. Di tempat-tempat di mana kopi robusta dibudidayakan, tentu saja lebih banyak orang yang menyukai citarasa kopi robusta dibandingkan dengan arabika. Fakta ini setidaknya mengingatkan kita bahwa, sementara selera minum kopi itu memiliki dimensi fisiologis, ia juga memiliki dimensi budaya.

Para pecinta kopi (Arabika) boleh mengunggulkan kelebihan citarasa kopi mereka. Namun harus diingat pula, tanpa ada Coffea canephora, tidak akan ada pula Coffea arabica. Bayangkan pula bila kopi robusta lah yang pertama kali ditemukan dan diperkenalkan, maka tentunya situasi diskriminasi sosial yang terjadi pada kopi robusta saat ini bisa dibalik dan akan menimpa kopi Arabika.

Karena arabika dan robusta punya kelebihan masing masing tidak jarang sejumlah pemilik coffeeshop ataupun warung kopi memilih untuk mencampur kedua jenis kopi ini untuk mendapatkan paduan rasa yang eksotis. Namun berbeda dengan Kenji Coffee. Kedai kopi kecil milik kenji ini mencoba mengenalkan beragam jenis olahan Full Robusta. Kemampuan kenji mengolah biji kopi robusta menjadi minuman dengan cita rasa luar biasa ini memang sedikit decak kagum. Bagaimana tidak,kenji mampu memiliki pasar sendiri sehingga memunculkan dinamika baru dalam dunia perkopian di kota Parepare.

” Saya kira ini memang sedikit berbeda,biasanya saya minum kopi dengan metode V60 itu menggunakan biji kopi arabika,tapi disini koq memakai Robusta” Ujar Ridwan salah satu pelanggan KenjiCoffee. ” Ternyata rasanya unik juga,kekuatan biji coffeenya memang terasa,tapi pas diminum serasa meluncur mulus ke tenggorakan” lanjut Ridwan.

Sementara itu menurut Kenji,menemukan takaran pas dalam mengolah biji kopi robusta memang diperlukan ketelitian. ” Robusta itu punya rasa yang kuat,jadi menentukan takaran musti telaten,kalau tahu ilmunya,pasti selalu ingin menikmati Robusta” ujar Kenji.

Kenji Coffee sendiri adalah salah satu kedai kopi asuhan Sweetness Coffee. yang juga berdiri di area Rumah Coffee Sweetness Soreang kota Parepare Sulawesi selatan. Meski mayoritas pelanggan kopi di parepare khususnya di Rumah kopi Swetness lebih menyukai kopi susu,Kenji tidak patah arang. Kenji pun tetap mengenalkan metode penyajian Robusta yang berbeda dan mencari pasar kopinya sendiri.(rdi)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: