Andi Faisal: Musuh Pengetahuan, Musuh Peradaban

SERATUSNEWS.ID, OPINI — Sejatinya kecintaan terhadap Ilmu Pengetahuan adalah fitrah sejati manusia. Tidak sulit membuktikan kebenaran tesis tersebut, liat saja seorang anak yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi terhadap dirinya dan dunia sekitarnya. Bahkan orang dewasa sekalipun (apapun profesinya) sesekali dalam hidupnya dia akan berhenti, berpikir dan merenungkan tentang alam semesta, tentang dirinya, tentang keberadaannya di dunia. Bahkan Allah Swt ketika pertama kali menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, yang disampaikan adalah perintah untuk: Membaca!

Mohon maaf, kata membaca diatas harus saya tambahkan dengan tanda seru dan penebalan (bold) karena akhir-akhir ini banyak orang yang membenci orang lain karena bacaannya. Tidakpercaya? Lihat saja time line social media hari ini, dimana sekelompok laki-laki di salahsatu took buku di Kota Makassar melakukan razia terhadap buku (bahanbacaan). Saya bertanya, mengapa buku-buku tersebut harus dirazia, apa yang berbahaya dari buku-buku tersebut?

Saya mendengar seorang pria yang menjadi juru bicara berkata “Makassar harus bebas dari paham-paham Marxisme”, saya kemudian meyimpulkan bahwa mereka menganggap marxisme = komunisme sehingga harus dilarang. Dari kesimpulan saya ini, saya menyimpulkan lagi bahwa mereka ini tidak paham sama sekali tentang marxisme. Dari kesimpulan ini, saya menyimpulkan lagi mereka tidak paham karena (mungkin) tidak pernah membaca buku-buku marxisme sebelumnya. Jadi saya menduga, mereka merazia buku-buku yang tidak pernah mereka baca sebelumnya.

Para pria-pria ini mungkin beranggapan bahwa jika seseorang membaca suatu buku, maka otomatis orang tersebut meyakini apa yang tertulis di buku tersebut. Jadi jika misalnya saya membaca buku tentang komunis, maka otomatis saya menjadi komunis. Apakah benar demikian?

Mari sedikitbelajarsejarah Islam.

Sejarah mencatat bahwa Islam pernah mengalami suatu masa kejayaan, yaitu masa ketika Islam diisi oleh ilmuan-ilmuan peletak dasar Ilmu pengetahuan modern seperti Ibnu Zina, Al Farabi, Al Kindi, Ibnu Khaldun, dan lain-lain. Orang-orang ini tidak hanya dikenal sebagai ilmuan tapi juga dikenal sebagai ulama di zamannya. Apa yang menyebabkan mereka menjadi ilmuan disatu sisi dan ulama disisi lain. Jawabannya, mereka mempelajari khasanah pengetahuan dari peradaban lain, pengetahuan diluar islam. Mereka menerjemahkan dan mempelajari filsafat Yunani, mereka mempelajari Sokrates, Plato, Aristoteles, Pytagoras dan lain-lain. Apakah mereka menjadi Ateis setelah mempelajari Aristoteles?

Kebalikan dari itu, Islam mengalami kemunduran setelah muncul ulama dankelompok-kelompok fundamental yang senang mengkafirkan ulama lain. Menganggap filsafat sebagai ajaran kafir yang sesat dan melarang pengikutnya menggunakan akal dalam memahami agama. Apakah kelompok ini masih ada hingga hari ini? Jika masih, itulah jawaban dari pertanyaan mengapa ummat islam hari ini tidak sanggup kembali ke era keemasannya. 

Coba berkaca pada bangsa Eropa, selama berabad-abad lamanya bangsa Eropa dikungkung dengan kekuasaan(dogma) Gereja, baru pada abad pertengahanlah Eropa mampu keluar dari kegelapan dan memasuki zaman pencerahan (renaisence), apa yang menyebabkan mereka dapat keluar dari kegelapan? Jawabannya, setelah para ilmuan mereka belajar di negeri-negeri islam, mereka mempelajari, filsafat, kesusastraan, tekhnologi dan kebudayaan Islam kemudian mereka mengembangkan ilmu pengetahuan tersebut di tanah mereka sendiri. Apakah para ilmuan Eropa tersebut otomatis memeluk agama Islam setelah mempelajari kebudayaan Islam?

Kesimpulannya, keterbukaan terhadap pengetahuanlah yang menjadi kunci kebangkitan suatu peradaban. Maka jika hari ini terdapat sekelompok orang yang memerangi buku (pengetahuan) maka mereka sejatinya adalah musuh peradaban.

Penulis:

Andi Faisal Mortheza (Sekertaris LAKPESDAM PCNU Kota Parepare)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: