Material Bangunan Ikut Terdampak, APERSI Sulsel Minta Harga Rumah Subsidi Naik

SERATUSNEWS.ID, PAREPARE – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat berdampak pada sejumlah industri, salah satunya adalah pada sektor industri properti.

Geliat dari industri properti ini akan terancam lesu, akibat harga bahan-bahan material telah melambung tinggi.

Salah seorang pengamat ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI), Syamsuri Rahim mengatakan, naiknya harga BBM hampir dipastikan berdampak juga pada harga material bangunan. Tentu kondisi ini harus menjadi perhatian agar dunia industri kembali stabil.

“Pasti harga material naik. Dampak naiknya BBM ini memang besar dan secara tidak langsung, daya beli masyarakat lemah. Termasuk bagi yang ingin berinvestasi pada bidang properti,” ujarnya.

Syamsuri Rahim menambahkan, industri properti bisa lesu, akibat pengembang juga harus menyesuaikan kondisi dengan menaikkan harga.

“Ini bisa lesu, karena pengembang juga harus menaikkan harga, sementara masyarakat semakin sulit mengakses rumah,” tambahnya.

Pengamat ekonomi UMI ini juga berharap, pemerintah tentu harus melakukan kajian dan mengambil kebijakan yang tepat dalam menyikapi hal ini. Tujuannya, semua pihak bisa sama-sama mendapat nilai positifnya.

”Sekarang tinggal bagaimana pemerintah menyikapi dan mengambil tindakan. Supaya pengembang tetap bisa jalan, masyarakat juga tidak kesulitan memiliki hunian,” harapnya.

Melihat kondisi ini, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Sulawesi Selatan (Sulsel), meminta harga rumah subsidi segera dinaikkan karena dampak naiknya harga BBM.

Ketua APERSI Sulsel, Yasser Latief menyatakan, jika harga tidak segera naik, maka pengembang akan terkena dampaknya. Karena beban biaya pembangunan sudah mengalami kenaikan sebelum naiknya harga BBM.

”Kami harap harga rumah subsidi itu segera naik. Karena jauh sebelum harga BBM naik, harga bahan material itu sudah tiga kali naik. Besi, semen, dan lainnya itu sudah lama naik,” jelas Yasser Latief.

Pihaknya pun mengatakan, naiknya harga BBM secara otomatis diikuti dengan kenaikan harga material lagi, dan tentunya harus penyesuaian harga yang dilakukan.

”Dua-tiga tahun belakangan ini harga jualnya tetap. Jadi memang perlu penyesuaian. Apalagi sekarang BBM naik, tentu ini akan diikuti lagi dengan harga material. Pasti naik lagi,” tambah Yasser Latief.

Selain itu, Yasser juga meminta agar pemerintah memberikan perhatian kepada para pengembang, karena beban biaya yang ditanggung menghadirkan perumahan juga semakin berat.

”Sehingga ini harus segera dinaikkan. Pemerintah juga harus memperhatikan, dalam tiga tahun tanpa kenaikan itu cukup berat bagi kami para pengembang,” tutupnya. (hsl) 

Tinggalkan Balasan