Seni Bonsai Ciptakan Peluang Ekonomi Kreatif di Parepare

SERATUSNEWS.ID, PAREPARE — Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Kota Parepare, melangsungkan pameran seni bonsai yang digelar di Teras Empang Cafe and Resto, Kelurahan Sumpang Minangae.

Sedikitnya ada 300 tanaman bonsai terpajang di area pameran, yang akan berlangsung mulai tanggal 4 hingga 10 Agustus 2022 mendatang.

Pembukaan atau launching pameran bonsai ini berlangsung meriah yang duawali dengan pemotongan pita oleh Ketua PPBI Parepare Taqyuddin Jabbar.

“Malam ini kita kumpul dalam rangka pameran internal. Event perkumpulan komunitas bonsai itu ada dua, namanya pameran internal, dan pameran nasional (Pamnas),” papar Taqyuddin.

Dia menjelaskan, pameran internal itu berarti lokal. Pameran lokal merupakan pra kondisi untuk Pamnas.

“Kita rencana Pamnas nanti itu kita laksanakan tahun depan. Yah mudah-mudahan, karena ada schedule secara nasional,” jelasnya.

Lebih jauh Taqyuddin menjelaskan, tujuan pameran seni bonsai antara lain menghimpun pecinta seni bonsai. Selanjutnya, segi ekonomi.

“Seperti yang kita ketahui ekonomi lagi terpuruk, salah satu solusi itu adalah ekonomi kreatif. Nah, salah satu ekonomi kreatif itu yang paling menjanjikan menurut saya adalah seni bonsai ini,” bebernya.

Menurutnya, menjanjikannya seni bonsai dalam ekonomi kreatif karena seni bonsai ini dapat dijalankan tanpa meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang lain.

“Memang syaratnya tidaklah mudah. Harus ulet, harus rajin, harus punya nilai seni,” ucap politisi Partai Demokrat itu.

Terkait harga tanaman bonsai, itu bervariatif. Selain itu, juga tergantung pada si pemilik bonsai mau menjual tanaman yang identik dengan negeri sakura Jepang itu dengan harga berapa.

“Di tempat lain misalkan harga Rp 100 juta, di tempat bisa sampai Rp 1 miliar. Tergantung yang mau jual,” kata mantan politisi Partai Golkar itu.

Dia menyimpulkan, seni bonsai ini sangat relatif tapi ada standar. Seni bonsai memiliki klaster-klaster tertentu, dari sisi tumbuhannya, usianya, perawatannya, dan segala macam.

“Inilah kemudian yang terakumulasi menjadi nilai mahar. Tapi di Parepare ini mungkin angka tertinggi baru mencapai Rp 30 juta per potnya. Tapi kita berharap kalau ada nanti bisa mencapai Rp 100 hingga Rp 200 juta,” pungkasnya. (*/hsl) 

Tinggalkan Balasan