OPINI: Orang Bugis Dikenal Sebagai Pelaut Ulung Sejak Dulu

Beberapa unit kapal jenis palari sedang berlabuh di perairan Parepare pada tahun 1931, (Foto : Wereldculturen)

SERATUSNEWS.ID, OPINI — Palari adalah jenis kapal layar Indonesia dari Sulawesi Selatan. Ia terutama digunakan oleh orang-orang Ara dan Lemo Lemo untuk mengangkut barang dan orang. Kapal ini dilengkapi dengan sistem layar pinisi, yang sering membuatnya lebih dikenal sebagai “Pinisi”, bukan nama sebetulnya. Di Singapura, palari dikenal sebagai “Kapal dagang Makassar” (Makassar trader).

Kapal jenis palari inilah yang digunakan oleh para pelaut Bugis, Makassar dan Mandar untuk misi dagang serta aktivitas nelayan ke beberapa wilayah di Nusantara, serta semenanjung Malaka hingga ke Eropa dan Afrika.

Saat berkesempatan berkunjung ke sebuah pulau kecil bernama Gili Trawangan, di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Tak sengaja kami bertemu dan bercengkrama dengan seorang ‘anak pantai’ dan bertanya soal penduduk mayoritas yang mendiami pulau yang memiliki pemandangan pantai serta bawah laut eksotis dan digemari oleh para wisatawan ini. Menurutnya, jika gili atau pulau-pulau kecil yang ada di Lombok Utara, yakni Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Aer, itu dirintis oleh para pelaut Bugis terdahulu.

Untuk menjawab rasa penasaran tentang kebenaran informasi itu, akhirnya kami menyewa sepeda menuju ke pemukiman warga yang berada di bahagian belakang pulau. Saat kami mengayuh sepeda di dekat sebuah dermaga, kami berpapasan dengan seorang laki-laki paruh baya dan bertanya dimana pemukiman orang-orang Bugis itu, lalu ia menyambut dengan senyum yang merekah dan menjawab dengan menggunakan bahasa Bugis “niga ta’sappa” yang artinya “siapa yang anda cari” ? Rasa penasaran itu pun sedikit terjawab dan kami diarahkan menemui seorang bapak yang dituakan di Gili Trawangan itu.

Saat menyusuri jalan-jalan setapak, suasana khas perkampungan Bugis memang sudah sangat kental dan sesekali terdengar suara warga yang saling sapa menggunakan bahasa lokal suku Sasak, yang bercampur dengan kosa kata dalam bahasa Bugis. Dugaan kami, mereka adalah orang Bugis yang sudah sangat lama bermigrasi dan menyatu dengan warga lokal sehingga bahasa mereka pun sering bercampur.

Bayangan tentang orang-orang Bugis yang pernah ditulis oleh Christian Pelras pada bukunya yang berjudul “The Bugis” pun langsung terbayang. Bagaimana hebatnya orang Bugis melayari samudera nan luas, melawat ke negeri-negeri yang jauh, mengangkangi laut-laut terdalam demi mencari sumber nafkah hingga ke Eropa dan Afrika.

Kebanggaan kami sebagai orang Bugis saat itu pun langsung membuncah, dan ingin segera bersua dengan penduduk Bugis di Gili Trawangan untuk mengetahui banyak hal tentang bagaimana ia bisa menetap dan berbaur dengan penduduk asli di pulau itu.

Akhirnya kami pun bertemu dengan bapak yang dituakan di pulau itu, jika tidak salah ingat, namanya pak Sahabuddin dan menyambut kami dengan suasana keakraban, kami pun mengutarakan maksud kami menemuinya dan dari mana kami berasal. Meskipun pengakuannya jika nenek moyang mereka berasal dari Mandar, namun ia menganggap Bugis dan Mandar adalah sama, dan sesekali kami pun bercengkrama dengan menggunakan bahasa Bugis.

Menurutnya, dahulu pulau ini pernah dijadikan tempat pembuangan narapidana yang membangkang terhadap Raja. Pada waktu itu, karena semua penjara sedang penuh, raja yang berkuasa kemudian membuang 350 orang pemberontak suku Sasak ke pulau ini.

Lalu Kemudian datanglah para pelaut Bugis dan Mandar dengan menggunakan perahu layar palari dan menjadikan pulau-pulau kecil atau “Gili” di Lombok Utara ini, sebagai tempat persinggahan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju pulau-pulau yang ada di Jawa.

Ada banyak cerita yang berkembang tentang sejarah atau asal usul dari Gili Trawangan tersebut, diceritakan juga bahwa penduduk asli dari pulau ini, itu berasal dari manusia perahu, atau orang-orang Bugis dari Sulawesi Selatan yang berani berlayar dan mengarungi samudera, dan akhirnya mereka menemukan Pulau Gili yang saat itu masih sangat sepi, baru kemudian disusul oleh narapidana yang dibuang ke pulau itu.

Kemudian ada sejarah lain juga diceritakan, pada jaman penjajahan atau kolonial Belanda, Gili Trawangan dihuni oleh seorang bernama Wak So’na yang berasal dari Tanah Mandar Balanipa. Wak So’na sendiri pertama kali menginjakkan kakinya di Labuan Pandan wilayah Lombok Timur, kemudian berpindah menuju Jambianom (Desa Medana) di kawasan Lombok Utara, kemudian pindah lagi ke Gili Aer beserta anak cucunya, dan memiliki banyak keturunan yang akhirnya menyebar sampai ke Gili Trawangan Lombok.

Sesuatu yang sangat mengakar bagi orang Bugis dimana pun mereka berpijak adalah, mereka tetap mempertahankan karakter serta adat istiadatya, meskipun telah melebur dengan penduduk lokal dan kawain-mawin serta beranak pinak, tapi mereka tetaplah Bugis.

Penulis: Abdillah.MS (Jurnalis Parepare)

Tinggalkan Balasan

Next Post

Gempa M 5,0 Guncang Mamuju, BMKG: Episenternya Terletak di Darat

Ming Sep 26 , 2021
SERATUSNEWS.ID, MAMUJU — Gempa bumi dengan Magnitude (M) 5,0, mengguncang wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), pada Ahad (26/9/2021) sore. Gempa ini selanjutnya dimutakhirkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi magnitudo 4,9. Episenter atau pusat gempa terletak pada koordinat 2,29° LS dan 119,19° BT tepatnya di darat pada […]

You May Like