Penguatan BPBD dalam Peran Pengembangan Sektor Pariwisata

Rapat Koordinasi Perwujudan Pariwisata Aman di 10 Destinasi Pariwisata di Graha BNPB Jakarta (Foto/ hms BNPB).

SERATUSNEWS.ID, JAKARTA – Pariwisata telah menjadi penghasil devisa nomor dua di Indonesia. Ada 11 Destinasi Pariwisata Prioritas antara lain Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu dan Kota Tua, Tanjung Kelayang, Bromo Tengger Semeru,Waakatobi, Morotai dan diantaranya 5 (lima) Destinasi Super Prioritas yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan bajo dan Likupang.

Masing-masing destinasi wisata yang menjadi potensi penerimaan negara juga memiliki potensi ancaman bencana disekitarnya. Pengurangan risiko bencana menjadi sangat penting untuk meningkatkan keamanan serta membangun kepercayaan para wisatawan untuk berwisata ke Indonesia yang tanggap dan siap dengan potensi bencana yang ada disekitarnya. Untuk itu diperlukan peningkatan kapasitas dan penguatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang berada di wilayah potensi pariwisata.

“Kita sangat memerlukan sistem dan manajemen yang lebih kuat di daerah pariwisata sehingga BPBD bisa melakukan berbagai langkah yang berhubungan dengan pencegahan, mitigasi, pengurangan risiko serta meningkatkan kesiapsiagaan kepada masyarakat dan para wisatawan,” ujar Kepala BNPB Doni Monardo pada Rapat Koordinasi Perwujudan Pariwisata Aman di 10 Destinasi Pariwisata di Graha BNPB, Jumat (3/1/2020)

Doni menghimbau setelah pertemuan Rapat Koordinasi ini, masing-masing BPBD dapat membuat proposal yang berisi kajian terkait potensi ancaman bencana yang ada di wilayah sekitar destinasi wisata dan didukung dengan data para ahli atau pakar untuk diberikan kepada Deputi Bidang Sistem dan Strategi Ir. Wisnu Widjaja, M.Sc sehingga dapat segera diketahui kebutuhan dan program yang harus dilakukan untuk mendukung program Destinasi Pariwisata Aman Bencana.

Sebagai informasi atas upaya BPBD dalam meningkatkan kesiapsiagaan pada daerah pariwisata, Kalaksa BPBD Provinsi Bali Drs. I Made Rentin, AP., M.Si. menjelaskan upaya mitigasi dan pengurangan risiko melalui sertifikasi sektor pariwisata terutama perhotelan.

“Kami telah mengharuskan semua sektor pariwisata, khususnya hotel-hotel yang begitu banyak tersebar di Bali untuk mengikuti Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana. Bagi yang tidak melakukan, akan kami berikan sanksi. Hal ini menjadi komitmen nyata keseriusan kami dalam menciptakan rasa nyaman dan aman sehingga ada rasa damai ketika berwisata di Bali,” ujar Made.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengungkapkan bahwa aspek keamanan dan keselamatan dari bencana merupakan hal yang paling diperhatikan para wisatawan saat memilih destinasi wisata.

“Pentingnya rasa aman dan nyaman, security and safety adalah salah satu top of mind dari tujuan wisata. Kami sudah berkoordinasi dengan BNPB bagaimana menciptakan manajemen krisis dan hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika terjadi bencana,” kata Wishnutama.

Melalui Rapat Koordinasi yang diisi dengan diskusi serta beragam penjelasan upaya BPBD di masing-masing daerah yang menjadi prioritas pariwisata maupun berpotensi sebagai wilayah pariwisata, diharapkan BNPB dapat menciptakan banyak terobosan baru bersama BPBD serta membuka sekat-sekat lintas sektor untuk bersama-sama menguatkan aspek mitigasi dan pengurangan risiko bencana untuk mewujudkan Destinasi Pariwisata Indonesia yang Aman Bencana.

Memberikan Rasa Aman bagi Wisatawan melalui InaRisk

Kunci pariwisata yang sering disebut dengan 3A, yaitu Accessibility (Akses para wisatawan dalam mengunjungi destinasi tujuan), Attraction (Daya tarik destinasi wisata), dan Amenities (Fasilitas pendukung destinasi wisata) ternyata masih tidak cukup dalam menciptakan rasa aman dan nyaman para wisatawan. 

Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia Ridwan Djamaluddin mengapresiasi upaya BNPB dalam menginformasikan potensi dan risiko bencana di Indonesia serta apa yang harus dilakukan melalui aplikasi InaRisk.

“Saya sangat mengapresiasi upaya BNPB dalam menginformasikan potensi bencana dan upaya mitigasi melalui aplikasi InaRisk. Saya berharap InaRisk dapat kita kembangkan bersama untuk memaksimalkan ketersediaan informasi upaya pengurangan risiko bencana yang jelas, mudah diakses, mutakhir serta menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat,” ungkap Ridwan.

InaRisk merupakan aplikasi yang menampilkan tingkat risiko bencana sekaligus saran untuk mitigasinya, baik pada fase sebelum, saat maupun pasca bencana. Inarisk Personal penting dimiliki semua orang sebagai upaya mempersiapkan diri dan keluarga dalam menghadapi bencana.

Dengan aplikasi inaRisk, pengguna dapat mengetahui ancaman bencana di wilayahnya dengan mudah serta segala informasi tentang bagaimana mitigasinya. Aplikasi yang diluncurkan pada November 2016 oleh BNPB itu dapat diunduh di laman aplikasi milik iOS dan Android di AppStore dan PlayStore.Lebih lanjut, inaRisk juga sudah digunakan salah satu Bank milik anak usaha BUMN untuk memberikan jaminan pinjaman kredit usaha maupun kredit perumahan sebagai salah satu syarat penerbitan kredit tersebut. (rls/ag)

Tinggalkan Balasan

tiktok downloader sssTIKTOK