Pelabuhan Parepare Dianggap Strategis Sejak Zaman Dahulu

SERATUSNEWS.ID, PAREPARE — Port dalam bahasa Indonesia adalah pelabuhan, namun istilah port, bila disandingkan dengan harbour, maka lebih akan mengacu pada aktivitas ekonomi dari suatu pelabuhan.

Salah satu warisan besar VOC di bidang maritim adalah rute perdagangan yang berisi titik pelabuhan sebagai jaringnya. Titik pelabuhan tersebut menjadi pangkal perkembangan suatu kota pantai, bahkan mencapai hingga ke sejumlah wilayah hinterland atau wilayah yang berfungsi sebagai pemasok dan pemenuhan kebutuhan bahan makanan pokok seperti beras serta tempat produksi komoditi ekspor seperti kopi dan rempah-rempah.

Jadi wajar ketika ada yang berpendapat, jika kota yang ada sekarang ini, adalah merupakan pengembangan dari kota pantai, seperti contohnya Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kota yang hanya memiliki luas 99,33 km² ini, memang sejak dulu memiliki nama yang sangat dikenal sebagai kota niaga. Bahkan nama besar itu sudah disandang sebelum zaman VOC Belanda.

Sejak zaman awal pendudukan Balanda di Parepare, yang berakhir pada tahun 1946, Parepare itu sudah dikenal sebagai bandar niaga, sehingga dibuatlah Kantor VOC yang sekarang adalah Hotel Siswa, Kantor Dagang yang sekarag Hotel Parewisata atau ex Bioskop Ras, serta gudang rempah-rempah dan hasil bumi pemerintah Belanda yang sekarang adalah Restaurant Dinasti.

Konon kota kecil ini diberi nama Parepare, itu berawal dari kunjungan Raja Gowa ke XI, yakni Manrigau Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga yang berkuasa pada tahun 1547-1566. Pada saat itu Raja Gowa ke XI, sedang berjalan-jalan dari kerajaan Bacukiki ke Kerajaan Soreang.

Pantai Kota Parepare dilihat dari bukit di Soreang, tanggal 3 Desember 1931. Nampak dikejuhan Pelabuhan Cappa Ujung menjorok keluar (Foto: Koleksi Nur Kasim)

Raja Gowa ke XI, yang dikenal sebagai ahli strategi dan pelopor pembangunan, tertarik dengan pemandangan yang indah dari daerah kecil ini dan spontan menyebut ‘Bajiki Ni Pare’ artinya ‘(Pelabuhan di kawasan ini) dibuat dengan baik’. Parepare pun kemudian ramai dikunjungi termasuk orang-orang Melayu yang datang berdagang ke kawasan Suppa, yang pada saat itu masih masuk dalam wilayah Afdeling Parepare. Afdeling adalah sebuah wilayah administratif pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda setingkat Kabupaten.

Melihat posisi yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi oleh Tanjung Lero di depannya, serta memang sudah ramai dikunjungi orang-orang, maka Belanda pertama kali merebut tempat ini kemudian menjadikannya kota penting di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan. Disinilah kemudian Belanda bermarkas untuk melebarkan sayapnya dan merambah seluruh dataran timur dan utara Sulsel.

Pelabuhan Perahu Cappa Ujung, Parepare, tanggal 30 Desember 1937 (Foto:Koleksi Nur Kasim)

Parepare yang memiliki pelabuhan megah dari dulu dikenal sebagai Kota Bandar atau Kota Niaga. Kota ini pernah menjadi pusat distribusi dan akumulasi barang dari dan ke Sulsel.

Disadur dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

tiktok downloader sssTIKTOK