Sayyang Pattuddu, Tradisi Kuda Menari yang Masih Tetap Lestari di Desa Ujung Lero

SERATUSNEWS.ID, PINRANG — Masyarakat suku Mandar yang bermukim di Desa Ujung Lero, Kecematan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), punya tradisi unik dalam pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diisi dengan pagelaran budaya Mandar, yakni Sayyang Pattuddu.

Bagi masyarakat suku Mandar yang bermukim di Desa Ujung Lero, Suppa, Pinrang, peringatan Maulid adalah kegiatan yang paling dinanti-nantikan. Pasalnya, momentum ini dijadikan sebagai ajang silaturahmi bagi masyarakat suku Mandar yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara.

Warga suku Mandar di Desa Ujung Lero, hampir dua tahun sekali menggelar kegiatan Maulid Akbar yang dirangkai dengan khatam Al-Quran secara massal. Lalu kemudian para pesertanya diarak keliling kampung dengan menggunakan kuda, namun kuda yang digunakan dalam pesta budaya Mandar ini sangat unik, karena bisa menari atau yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah Sayyang Pattuddu.

Setiap anak yang sudah Khatam Al-Quran akan mengendarai kuda yang sudah dihias sedemikian rupa. Kuda-kuda ini juga terlatih mengikuti irama pesta dan mampu berjalan sembari menari dengan menggoyang-goyangkan kaki serta menggeleng-gelengkan kepala agar tercipta gerakan yang menawan dan harmonis mengikuti iringan musik tabuhan rebana dan untaian pantun khas suku Mandar yang mengiringi arak-arakan itu.

Kepala Desa Ujung Lero, Amran mengatakan, pagelaran Budaya Mandar Sayang Pattuddu ini, sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan tetap dilestarikan secara turun-temurun, bahkan untuk pesertanya kali ini mencapai 30 orang dari berbagai wilayah Sulsel dan Sulbar.

Lebih lanjut dikatakan, tradisi Sayyang Pattuddu ini bertujuan untuk memotivasi anak-anak, agar rajin belajar membaca Al-Quran hingga mahir dan akhirnya bisa khatam, dan jika sudah khatam, mereka pun bisa menunggangi kuda menari. (*/ag)

Tinggalkan Balasan

tiktok downloader sssTIKTOK